Home » » Default 3 hewan terlangka di indonesia

Default 3 hewan terlangka di indonesia

Written By Vina Syanti on Kamis, 02 Mei 2013 | 08.41

Default 3 hewan terlangka di indonesia - Quote:
Sebenarnya dalam dunia konservasi tidak mengenal istilah hewan langka. Status yang pakai adalah ‘hewan terancam punah’ sebagaimana yang biasa digunakan oleh berbagai lembaga konservasi semacam IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) yang rutin mengklasifikasi dan menrilis daftar IUCN Red List of Threatened Species.
Daftar tersebutlah yang kemudian dijadikan acuan berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah dalam pengambilan kebijakan terkait konservasi hewan. Indikator keterancaman ini pula yang kemudian sering disamakan dengan tingkat kelangkaan sebuah spesies. Berikut ini adalah 3 hewan asli Indonesia yang sangat langka (terancam punah).

1.Badak Jawa


Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sering disebut juga sebagai Badak Bercula Satu. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah salah satu spesies satwa terlangka di dunia. Binatang endemik jawa ini hanya bisa dijumpai di Taman Nasional Ujung Kulon (Banten) dengan populasi hanya 35 hingga 45 ekor saja (hasil sensus Badak 2011). Badak Jawa juga merupakan spesies badak yang paling langka diantara lima spesies badak yang ada di dunia dan masuk dalam Daftar Merah badan konservasi dunia IUCN, yaitu dalam kategori sangat terancam atau critically endangered.
Badak diyakini telah ada sejak jaman tertier (65 juta tahun yang lalu). Seperti halnya Dinosaurus yang telah punah. Badak pada 60 juta tahun yang lalu memiliki 30 jenis namun banyak mengalami kepunahan. Saat ini hanya tersisa 5 spesies badak, 2 spesies diantaranya terdapat di Indonesia. Di Indonesia, Badak Jawa dahulu diperkirakan tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Sumatera saat itu badak bercula satu ini tersebar di Aceh sampai Lampung. Di Pulau Jawa, badak Jawa pernah tersebar luas diseluruh Jawa. Badak Jawa kini hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUT), Banten. Selain di Indonesia Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) juga terdapat di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Populasi Badak bercula satu (Badak Jawa) yang hanya 30-an ekor.

2.Kanguru Pohon Wondiwoi



Kanguru Pohon Wondiwoi (Dendrolagus mayri) atau Wondiwoi Tree-kangaroo adalah salah satu jenis kanguru pohon asal Papua. Kanguru ini populasinya diperkirakan sekitar 50 ekor saja. Kanguru Pohon Wondiwoi (Dendrolagus mayri) merupakan hewan endemik yang hanya ditemukan di pulau Papua.
Hingga kini masih sedikit sekali yang diketahui tentang spesies Kanguru Pohon Wondiwoi (Dendrolagus mayri) ini. Berdasarkan satu-satunya spesimen yang ditemukan Ernst Mayr, kanguru endemik Papua ini mempunyai berat sekitar 9,25 kg. Bulunya berwarna hitam suram dengan beberapa bagian yang berwarna kekuningan. Daerah pantat dan tungkai berwarna kemerahan dengan ekor keputihan. Habitat Kanguru ini diperkirakan di daerah hutan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.600 meter dpl. IUCN Red List memprediksi jumlah populasi kanguru pohon ini sekitar 50 ekor individu saja. Lantaran itu tidak mengherankan jika kemudian IUCN Red List memasukkan Kanguru Pohon Wondiwoi atau Wondiwoi Tree-kangaroo sebagai spesies Critically Endangered atau spesies yang sangat terancam punah (Kritis).

3.Pesut Mahakam



Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) atau Irrawaddy Dolphin; merupakan mamalia air tawar yang unik. Di Indonesia hidup di sungai Mahakam dengan populasi sekitar 70 ekor. Pesut Mahakam bisa jadi merupakan mamalia air paling langka di Indonesia. Pesut Mahakam yang merupakan sub-populasi Orcaella brevirostris hanya bisa ditemukan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur saja. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian Pesut Mahakam ditetapkan sebagai fauna identitas provinsi Kalimantan Timur.
Pesut mahakam merupakan mamalia air yang unik. Berbeda dengan lumba-lumba dan ikan paus, pesut (Orcaella brevirostris) hidup di air tawar yang terdapat di sungai-sungai dan danau yang terdapat di daerah tropis dan subtropis. Ancaman tertinggi kelangkaan populasi Pesut Mahakam diakibatkan oleh belitan jaring nelayan. Selain itu juga akibat terganggunya habitat baik oleh lalu-lintas perairan sungai Mahakam maupun tingginya tingkat pencemaran air, erosi, dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya.

Related Post:

Arsip Blog

 
Copyright © 2013. Bripturani - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger